Rabu, 06 Juni 2012

Kearifan Lokal di Kabupaten Rembang


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kabupaten Rembang terletak di ujung timur laut Propinsi Jawa Tengah dan dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), terletak pada garis koordinat 111000' - 111030' Bujur Timur dan 6030' - 706' Lintang Selatan. Laut Jawa terletak disebelah utaranya, secara umum kondisi tanahnya berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 meter di atas permukaan air laut. Adapun batas- batasnya antara lain: Sebelah Utara : Laut Jawa , Sebelah Timur : Kabupaten Tuban Propinsi Jawa Timur  , Sebelah Selatan : Kabupaten Blora  , Sebelah Barat : Kabupaten Pati.
Kabupaten Rembang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur, sehingga menjadi gerbang sebelah timur Provinsi Jawa Tengah. Daerah perbatasan dengan Jawa Timur (seperti di Kecamatan Sarang, memiliki kode telepon yang sama dengan Tuban (Jawa Timur).Bagian selatan wilayah Kabupaten Rembang merupakan daerah perbukitan, bagian dari Pegunungan Kapur Utara, dengan puncaknya Gunung Butak (679 meter). Sebagian wilayah utara, terdapat perbukitan dengan puncaknya Gunung Lasem (ketinggian 806 meter). Kawasan tersebut kini dilindungi dalam Cagar Alam Gunung Celering.
Perubahan adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan saja berhubungan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia. Hubungan erat antara manusia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan budaya manusia. Budaya lahir karena kemampuan manusia mensiasati lingkungan hidupnya agar tetap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. Kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya. Kebudayaan merupakan aktivitas yang dapat diarahkan dan direncanakan. Oleh sebab itu dituntut adanya kemampuan, kreativitas, dan penemuan-penemuan baru. Manusia tidak hanya membiarkan diri dalam kehidupan lama melainkan dituntut mencari jalan baru dalam mencapai kehidupan yang lebih manusiawi. Dasar dan arah yang dituju dalam perencanaan kebudayaan adalah manusia sendiri sehingga humanisasi menjadi kerangka dasar dalam strategi kebudayaan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja kearifan lokal di Kabupaten Rembang yang berhubungan dengan kebudayaan didaerah tersebut?
2.      Bagaimana cara masyarakat mempertahankan kearifan lokal tersebut?
C.     Tujuan
1.      Agar kita mengetahui bentuk kearifan local di Kabupaten Rembang
2.      Agar kita bisa belajar dari masyarakat daerah tersebut tentang arti pentingnya menjaga lingkungan (dalam hal ini berhubungan dengan budaya)








BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini (Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang.
Masalah lingkungan menjadi masalah yang global. Dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh penduduk bumi dengan adanya gejala-gejala alam yang menunjukkan ketidakwajarannya.Ketika disadari bahwa lingkungan mendapatkan ancaman serius, ternyata adanya kearifan lokal justru lebih dahulu berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan sebelum gerakan-gerakan peduli lingkungan bermunculan. Bahkan dalam hal tertentu kearifan lokal lebih berperan dalam menjaga ekosistem dari pada hukum yang ditetapkan dalam mengatur pola masyarakat. Adanya mitos, ritual, dan pitutur luhur yang erat kaitannya dengan alam mampu mengatur masyarakat sedemikian rupa dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Namun keberadaan kearifan lokal tersebut terancam oleh nilai-nilai asing yang turut masuk lewat globalisasi.
Ritual merupakan bagian dari kepercayaan. Di masyarakat jawa terdapat ritual yang berhubungan langsung dengan alam. Melihat dari keberadaan mitos yang telah dijelaskan di atas, para penunggu Pulau Jawa yaitu roh-roh halus menempati gunung, hutan, dan lautan sebagai tempat tinggal mereka. Ritual diadakan oleh masyarakat jawa sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh sebagai penunggu gunung, hutan, dan laut. Bentuk dari ritual tersebut sangat beragam. Mulai dari penghormatan agar roh-roh tersebut tidak menggangu masyarakat, sampai pada penghormatan sebagai bentuk rasa syukur karena telah melimpahkan rejeki.Ritual-ritual yang dilakukan masyarakat jawa tidak lepas dari pandangan masyarakat terhadap alam. Dalam upacara selamatan yang meminta keberkahan terhadap roh-roh penunggu, lelembut, jin, dan sebagainya yang menunggu tempat tertentu. Menurut kepercayaan keberadaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan keberkahan dan keselamatan. Namun jika manusia merusak tempat tinggal mereka, maka akan terjadi malapetaka.
Seperti halnya di Kabupaten Rembang,terdapat berbagai macam ritual atau biasanya di daerah ini disebut dengan sedekah laut maupun sedekah bumi. Istilah  sedekah bumi dan sedekah laut sudah Iama dikenal bangsa kita jauh sebelum kita mencapai kemerdekaan dengan mendirikan Negara Republik Indonesia. Kedua istilah itu merupakan perpaduan, sintesis, atau sinkretisme antara kepercayaan lama dengan kepercayaan baru.
Sebelum agama Islam masuk ke Tanah Air -waktu itu belum muncul nama Indonesia- sebagian penduduk berpegang pada kepercayaan lama, yang dalam istilah Ilmu Agama (Science of Religion ) disebut animisme, dinamisme, fetisisme, dan politeisme. Sebagian yang lain memeluk agama Hindu dan Buddha. Mereka mempercayai adanya kekuatan supernatural yang mengusai alam semesta, berupa dewa-dewa. Di antaranya ada dewa yang mengusai lautan (Varuna), dan menguasai bumi (Pertiwi ). Sebagai ungkapan rasa syukur dan pemujaan kepada dewa-dewa tersebut, mereka mengadakan upacara-upacara (ritual ), dengan membaca mantra-mantra dan mempersembahkan sesaji. Tujuannya agar para dewa memelihara keselamatan penduduk, menjauhkan mereka dari mala-petaka, dan melimpahkan kesejahteraan, berupa meningkatnya jumlah ikan di laut dan hasil pertanian.
Kedatangan agama Islam ke Nusantara dibawa oleh para mubalig yang dalam menyiarkan agamanya menggunakan metode persuasif. Mereka tidak secara drastis mengadakan perubahan terhadap kepercayaan dan adat istiadat lama, melainkan sampai batas-batas tertentu, memberikan toleransi, membiarkannya tetap berlangsung dengan mengadakan modifikasi-modifikasi seperlunya. Upacara-upacara yang dimaksudkan untuk memuja dewa laut dan dewa bumi dibiarkannya tetap berjalan, meski sebagian penduduk itu sudah memeluk agama Islam. Hanya saja, mantra-mantranya diganti dengan doa-doa secara Islam, dan nama upacara disesuaikan dengana ajaran Islam, yaitu dengan istilah sedekah laut dan sedekah bumi. Perubahan yang menyangkut aspek teologis dilakukan secara bertahap, sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial. Ini merupakan salah satu metode dakwah mubalig pada masa awal kedatangan Islam di Tanah Air kita.
Sedekah berasal dari bahasa Arab: shadaqah. Dalam pengertian khusus, kata itu mengandung arti pemberian seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang-orang muslim untuk memenuhi kepentingan seseorang atau umum dengan niat untuk memperoleh pahala dari Tuhan. Adapun shadaqah dalam pengertian luas, mencakup juga pemberian yang disebut zakat dan infaq.
Di Kabupaten Rembang itu sendiri, kegiatan Upacara sedekah laut maupun sedekah bumi ini sudah dilakukan jauh-jauh hari dan sudah menjadi budaya di masyarakat Rembang pada khususnya.Biasanya acara sedekah laut yang diselenggarakan melarung berbagai macam jajanan pasar, miniatur kapal laut,kepala kerbau dan berbagai macam barang yang dipercayai akan membuat hasil laut mereka menjadi lebih berlimpah.Jadi tidak heran jika biaya yang digunakan sangat besar.Biaya ini biasanya hasil dari iuran warga dan mereka masih saling membantu untuk terlaksananya upacara sedekah laut ini.Sifat gotong royong yang tidak bisa lepas dari acara ini.
Nelayan-nelayan di Rembang pun tidak asal dalam menangkap ikan, mereka tidak menggunakan pukat harimau maupun bom ikan untuk menangkap ikan. Mereka masih menggunakan cara yang tradisional dan masih bergantung pada cuaca.Sehingga ketika cuaca tidak mendukung untuk melaut,biasanya mereka tidak pergi melaut,hanya beberapa nelayan saja yang nekat untuk melaut.Nelayan di Rembang juga percaya jika mereka mengadakan upacara sedekah laut ini maka hasil tangkapan mereka akan lebih baik dari tahun sebelumnya sehingga mereka tetap menjaga kelestarian laut tempat mereka mencari nafkah.
Sedangkan untuk upacara sedekah bumi ini, merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas panen yang berlimpah di desa mereka. Biasanya mereka menyediakan makanan khas yaitu “dumbeg”. Mereka menyediakan berbagai macam makanan untuk tamu yang dating berkunjung ke rumah mereka.Biasanya di acara sedekah bumi ini, juga dihadirkan tontonan seperti wayang orang , wayang kulit, pasar malam dan panjat pinang / “jambean”.
Upacara sedekah bumi ini juga sudah mendarah daging di masyarakat setempat.Selain itu dalam mengerjakan sawah mereka juga masih menggunakan alat yang tradisional.Sehingga rasa gotong royong antar penduduk di kampung / desa tersebut masih terjalin sangat erat.Mereka juga tidak merusak tanah dengan pemberian pupuk yang berlebihan ataupun penggunaan pestisida yang berlebihan,karena mereka sadar kalau tanah ini yang menjadi mata pencaharian mereka.Sehingga sebisa mungkin mereka menjaganya dengan pengetahuan yang mereka miliki selama ini.
Dalam hal ini jelas jika ada hubungan antara kearifan lokal dengan budaya lokal yaitu kearifan lokal itu merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu (budaya lokal) dan menecerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (masyarakat lokal). Dan kalau budaya lokal itu merupakan suatu budaya yang dimiliki suatu masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di tempat yang lain.















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bentuk kearifan lokal yang berhubungan dengan kebudayaan di Kabupaten Rembang itu sendiri seperti adanya upacara sedekah laut dan sedekah bumi yang memiliki tujuan yang sama yaitu bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rejeki yang datang dari laut maupun dari bumi.Sehingga masyarakat di Rembang itu sendiri merasa perlu untuk mengadakan upacara seperti ini.
Dalam hal ini, masyarakat masih memiliki rasa gotong royong yang tinggi agar terciptanya acara sedekah laut / sedekah bumi ini.Tidak mencemari atau menggambil yang sudah disediakan dengan berlebihan merupakan suatu hal yang perlu untuk dicontoh pada masa sekarang ini.
B.     Saran
Kearifan lokal  seperti ini hendaknya juga diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat bukan hanya di daerah Rembang saja,namun juga masyarakat-masyarakat yang lain.Agar lingkungan kita menjadi lebih bersahabat dengan kita.
Di sisa-sisa tenaga kearifan lokal dalam mempertahankan eksistensinya, diperlukan suatu usaha untuk menjaganya untuk tetap berkembang dalam masyarakat. Usaha tersebut harus disertai dengan kesadaran akan peranan kearifan lokal yang sangat penting di dalam menghadapi permasalahan.
Pendidikan merupakan media dimana dalam proses pembelajaran ditanamkan nilai-nilai. Dalam memberdayakan kearifan lokal dapat dilakukan dengan mengintegrasikan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya muatan lokal. Sedangkan untuk menanamkan nilai-nilai kelingkungan dapat dilakukan dengan hal yang sama maupun dengan mata pelajaran khusus, seperti pendidikan kelingkungan hidup.















DAFTAR PUSTAKA

http://kearifan lokal masyarakat jawa dan kelestarian lingkungan « Demotrasi.htm
http://Upacara Sedekah Laut « RED4LIFE.htm
http://Kabupaten Rembang - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm
http://pangasuhbumi.com/article/20582/pemulihan-lingkungan-dengan-kearifan-lokal.html

http://staff.undip.ac.id/sastra/dhanang/2010/11/22/membangun-masyarakat-madani-berbasis-kearifan-lokal-di-kabupaten-brebes/

http://rimanews.com/read/20100802/1940/mencari-kearifan-lokal-lewat-cerpen

http://tal4mbur4ng.blogspot.com/2010/07/kearifan-lokal-guna-pemecahan-masalah.html
http://Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara « rramadhani.htm




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar